Tentang Sebuah Jalan (sebuah Cerpen #2)

Aku kembali menyusuri senjaku. Saat itu hanya sendiriku dan ditemani hiruk-pikuk kecil sekitar. Mungkin hanya sebatas melepaskan penat saja. Tapi, aku tahu, sesungguhnya lebih dari itu. Suatu tujuan besar menanti di depan dan akan terus menggerus. Dan akhirnya kegelisahanlah yang menang. Tidaklah aneh apabila ke khawatiran menjadi teman setia saat ini. Mencari keramaian hanyalah salah satu solusi.

Kampus merupakan tampat eksotis para intelektual mencari inspirasinya. Entahlah, mungkin inspirasi hanya datang dikala ada maunya saja. Saatnya untuk keluar. Demi Emosi. Sempatkan berjalan, jauh dari kesunyian layar. Lab tempat bernaung kini memiliki jarak, yah walaupun hanya sesaat, sampai rindu tentangmu datang menjemput. Berjalan di jalan yang entah mengapa membawaku sampai kesini. Apakah ini jalanmu ya Rasul Allah? Mampukah kami menyusuri jalanmu? hmm… Seandainya saja jalan itu mudah, pastilah bukan jalanmu.

Ia adalah jalan. Mungkin terjal, berkelok tetapi tetap saja itu adalah jalan dengan karakteristiknya. mungkin lucu apabila jalan hanyalah jalan semata tanpa kita sadari niat akan sesuatu yaitu tujuan. Entah, disampinya adalah kursi. Apa mereka sahabat? mungkin saja! Tetapi tidaklah kita pernah tau tentang itu. Tujuan adalah pemberhentian atau tujuan bisa menjadikan mu awal dari perjalanan. Tentu saja perjalanan yang semakin panjang. Berdamailah wahai jalan dan kursi.

DSC_0029

#Fiksi #Cerpen #Cerbung

Suatu Kursi di Tengah Kampus (sebuah Cerpen #1)

Suatu saat yang dinanti, saya berjalan keluar menanggapi emosiku yang sedang butuh udara fresh. Keluar dari lab merupakan suatu pilihan yang tepat untuk menyejukkan emosi sesaat. Inilah saya Tyo yang berkuliah di kampus NCU di Taiwan. Berjalan sendiri, mencoba berpartisipasi dengan hiruk pikuk kampus, menyusuri jalan yang terkadang hanya sebuah formalitas saja. Demi emosi.

Sore itu udara cukup panas, padahal minggu lalu dingin bak es datang terus. Ternyata musim semi itu tak dapat di prediksi. Kini panas dan dingin hanyalah formalitas saja, tak ada yang pasti. Dengan jaket biruku yang selalu ku bawa, yah karena cukup hangat dibandingkan hari hari sebelumnya.

Cukup hanya sang senja saja yang datang menemani dan sebuah kursi. Kursi taman. Kursi ini istimewa. Apa istimewanya? Dia menghadap sesuatu. Terletak ditengah pertigaan jalan taman dia membisu, sepi, sendiri. Kini ku temani. Dia membelakangi hiruk pikuk di belakangnya. Orang-orang yang tak memperhatikanya, pedulinya hanya untuk dirinya. Mengapa dia membelakanginya? Bukankah itu jalan? Tidaklah bosan seharusnya, karena banyaknya yang lalu lalang silih berganti.

DSC_0049

#Fiksi #Cerpen #Cerbung