Menjadi Adzan

Terkesan sangat simple ya judulnya semoga saja yang membaca ini menjadi tertarik untuk bersemangat dan menorehkan inspirasi-inspirasi yang membuat kita tak lelah untuk bangkit.

Hidup di perantauan sangatlah luar biasa dalam segi pengalaman yang akan memberimu nuansa cerita baru. Tapak tilasmu akan membekas kala semua menjadi kenangan. Cerita demi cerita akan terus bersambung sampai ada kalanya berpisah sebagai tanda akhir suatu cerita layaknya novel. Ini lah kita, saya, kami di tanah perantauan mencoba membuka jalan mencari kebenaran yang sesungguhnya tidak kami nikmati seutuhnya di tanah air yaitu nikmat ber-Islam.

Saya tengah berada di negeri yang mayoritas memiliki agama atau keyakinan yang berbeda. Dimana peraturan dan norma yang terbentuk sangatlah berbeda. Tingkah laku penduduk setempat yang terkadang membuat saya sangat surprised terhadap mereka yang berfaham liberal mencontoh negara adidaya, polisi dunia. Terkesan kebebasan adalah hal mutlak yang harus dihormati dimana sebenarnya tidak benar-benar bebas. Ditanah kelahiran banyak seruan-seruan untuk menghadap-Nya yang terkadang saya acuhkan sebagai angin lalu, akibat kurang peka dan kesadaran iman yang terus menurun. Mungkin itulah efek samping hidup ditengah ‘mayoritas’, terbesit opini semata. Coba saya bandingkan disini, adzan lewat Hp yang sering saya gunakan sebagai pengingat, itupun terjadi jikalau di-setting on pemberitahuanya, kalau tidak yaa sudah. Apalagi kalau dikeseharian yang mewajibkan kita bergaul di komunitas lokal, bukan tidak mungkin pengingat adzan itu kita rubah hanya dengan getar semata berdasar saling menghormati atau ‘sungkan’ karena akan menjadi asing buat mereka. It’s ok but actually it’s a problem. Hmm, every person have their own opinion.

Adzan, satu kata ringan yang sering kita dengar di negeri kita tercinta tapi jarang terdengar disini oleh saya. Walaupun demikian, terkadang itulah yang menjadikan semangat untuk menghadapNya. Kangen. rindu. Demikianlah deskripsi kata yang tepat yang terus mengusik bila mana kebiasaan tersebut tiba-tiba berubah, mencari-cari hal yang seharusnya saya dengar, tapi sayang sekali tidak disini. Kata tersebut ternyata membawa kesan tertentu ketika jauh dari kampung halaman yaitu membangkitkan semangat untuk pergi ke masjid yang jauh dari kampus tempat kami bernaung hanya untuk menghadapNya dan mendengarkan panggilanNya. Sungguh itu benar-benar nikmat yang saya cari-cari. Nikmat rindu akan seruanNya.

Coba kita bayangkan hidup sebagai menoritas, yang disitulah sebenarnya ada keadilanNya. Teman yang dekat sebagai ‘adzan’ dalam jalan kebenaran dan nikmat ‘rindu’. I always think how lucky I am dengan segala keluh kesah dan pengorbanan sebagai seorang perantau di tanah asing. Adzan kami adalah teman-teman yang selalu sabar. Lewat mereka lah terkadang seruan itu muncul untuk bersama bersujud kepada-Nya.

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628)

Sungguh beruntungnya saya memiliki teman-teman yang selalu mengajak ke jalan kebenaran. lantas apakah itu akan berhenti kepada saya. tentu saya memilih tidak. saya pasti akan menunjukan action saya. Dan itu hanyalah masalah waktu untuk merealisasikanya. May Allah Ta’ala help me. Karena itu sudah tertuang dalam Al Quran:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Bukan kah sudah jelas kita berperan sebagai pengingat sesama dalam kebenaran dan kesabaran. menjadi Bilal bin Rabbah di negeri asing dimulai dari hal dan lingkup yang kecil, yaitu teman-teman. menjadi ‘adzan’ bagi diri sendiri dan teman-teman insyaallah sebagai bentuk Ikhtiar saya dalam pengaplikasian ayat tersebut.

Mari berbuat. 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s